Select Page

Perang Dunia II di Front Asia Tenggara antara tahun 1943 dan 1945 melihat perubahan besar dalam dinamika konflik, dengan Sekutu mulai mengambil inisiatif melawan Jepang. Setelah beberapa kemenangan Jepang di awal perang, Sekutu mulai mengonsolidasikan kekuatan mereka dan melancarkan serangan balik. Pada tahun 1943, pasukan Inggris dan Cina mulai mengatur operasi di Burma, bertujuan untuk merebut kembali wilayah yang hilang dan memotong jalur suplai Jepang. Pertempuran seperti di Kohima dan Imphal menjadi titik balik penting, di mana pasukan Sekutu berhasil menghentikan dan kemudian memukul mundur pasukan Jepang.

Pada tahun 1944, Sekutu melancarkan Operasi U-Go dan Operasi Ha-Go yang bertujuan untuk merebut kembali Burma dan menekan Jepang lebih jauh ke selatan. Dengan bantuan dari pasukan lokal dan dukungan udara yang semakin kuat, Sekutu berhasil memenangkan serangkaian pertempuran kunci yang memungkinkan mereka untuk merebut kembali kota-kota strategis seperti Mandalay dan Rangoon. Pertempuran ini tidak hanya melemahkan kekuatan militer Jepang di kawasan itu tetapi juga memotong jalur suplai vital yang sangat diperlukan oleh pasukan Jepang untuk bertahan.

  • Menjelang akhir perang pada tahun 1945, pasukan Sekutu melanjutkan tekanan mereka dengan serangan lebih intensif di seluruh Asia Tenggara. Dengan jatuhnya posisi-posisi kunci Jepang di Burma, Malaya, dan Hindia Belanda, serta pengeboman besar-besaran oleh Amerika Serikat terhadap wilayah-wilayah yang diduduki Jepang, kekuatan militer Jepang semakin melemah. Akhirnya, kekalahan Jepang di Asia Tenggara menjadi bagian integral dari kekalahan total mereka dalam Perang Dunia II, yang berpuncak pada penyerahan resmi Jepang pada bulan Agustus 1945 setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.
  • Penulis            : Pat Nigel
  • Penyunting     : L. Yudhapratama
  • Ukuran            : 14,8 x 21 cm
  • Halaman         : x+358